Telinga Berdengung Karena Pake iPods, Kok Bisa?

MUSIK salah satu cara pendongkrak semangat, musik membuat hidup lebih hidup, tapi apa jadinya jika musik bikin telinga berdengung? Tentu bukan musik yang bikin telinga ‘ngungung’, tapi perilaku kita mendengarkan musik yang membuat pendengaran jadi tak tajam lagi.

Para peneliti menemukan sekitar seperempat pengguna iPods mengalami gangguan pendengaran. iPods mania atau pemakai portable music players lainnya sering beresiko mengalami kenaikan telinga berdengung (tinnitus) atau masalah pendengaran lainnya, kecenderungan ini lebih banyak dijumpai pada pengguna iPods yang gila-gilaan memutar volume iPods-nya.

Para responden mendengarkan musik dengan volume sebanding dengan perangkat bermesin motor (ie: mesin bor). Para peneliti menemukan bahwa tingkat dengungan (tinnitus) akan meningkat karena pendengaran tak bisa lagi mengadopsi kebiasaan normal telinga mereka.

Penelitian tersebut mencatat sekitar 25 persen responden cenderung mendengarkan iPods ataupun portable musik lainnya dalam kapasitas ‘bising’ sebanding dengan tingkat kebisingan suara-suara pada alat pemotong rumput maupun perangkat bermesin motor, dengan rata-rata intensitas diatas 85 decibels.

Dalam ukuran normal, orang dengan pendengaran normal audiogram-nya terletak antara 0 sampai 20 decibels, lebih dari 30 decibels dengan rentangan sampai 100 desibel berarti ada gangguan pendengaran.

Ukuran intensitas pendengaran normal dicatat dalam bentuk audiogram, dimana audigram yang terletak antara 30 sampai 40 decibels termasuk gangguan ringan. Dari 40 sampai 60 decibels termasuk skala sedang. Antara 60 sampai 90 desibel sudah berat. Sebagai gambaran, bunyi mesin bor jalanan sama dengan 100 desibel. Mesin pesawat terbang 120 desibel. Sedang ruangan yang tenang kira-kira sekitar 30 sampai 40 desibel.

Menikmati alunan musik disco, menghadiri pesta dansa, bekerja di pabrik, mendengarkan musik sambil berkendara atau hanya mendengarkan musik didalam kamar, apapun kondisinya jika mengganggu telinga hal tersebut sudah termasuk kategori ‘kebisingan’.

Akan lebih baik jika mendengarkan musik dalam frekuensi normal, mungkin gangguan ini tak tampak dalam waktu dekat namun tak menutup kemungkinan memicu gangguan yang lebih berat beberapa tahun mendatang.

Sumber : (sky/rit)

Mahasiswa dugem buat hilangkan stress

TIDAK dapat dipungkiri lagi, dunia gemerlap (dugem), sudah menjadi gaya hidup anak muda sekarang, terutama di kalangan mahasiswa di kota-kota besar, mereka melakukan hal itu dengan tujuan untuk menghilangkan stress setelah suntuk dengan perkuliahan mereka.

Kata orang dugem identik dengan alkohol, narkoba dan seks bebas, namun tidak semua pencinta dan penikmat dugem (clubbers) minum alkohol, menggunakan narkoba atau melakukan sekc bebas.

Mengenai pengeluaran, tidak bisa dipungkiri bisa menghabiskan biaya puluhan ribu rupiah bahkan ratusan ribu rupiah atau bahkan jutaan rupiah untuk sekali melakukan dugem. Banyak yang beranggapan bahwa uang yang dikeluarkan setimpal dengan apa yang mereka dapatkan.

Ada juga yang berpikiran bahwa melakukan dugem hanya untuk bersenang-senang saja agar terhindar dari stress akibat tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Atau sekedar bisa bertemu teman-teman dan melepaskan beban kuliah di tempat dugem.

baca juga

Nah, apakah Anda salah satu mahasiswa yang senang pergi dugem hanya untuk menghilangkan stress?

Ditulis dalam Lifestyle. 3 Komentar »

Musik Bising Bikin Anda Cepat Mabuk

DENTUMAN musik di bar atau diskotik bukan saja membuat Anda larut dalam suasana yang menghibur. Kerasnya volume suara musik yang diputar juga dapat merangsang kecepatan Anda dalam minum Alkohol.

Bagi yang sering nongkrong di bar atau diskotik, fakta ini mungkin bukanlah hal yang baru. Tetapi sebuah penelitian ilmiah di Prancis menunjukkan, bertambah besarnya volume musik dapat memicu dan meningkatkan kecepatan seseorang menenggak bir atau minuman beralkohol lainnya.

Musik yang gaduh atau bising berkorelasi dengan peningkatan konsumsi alkohol dan memperpendek waktu yang dibutuhkan seseorang untuk mengosongkan gelasnya.

Musik berirama cepat dapat merangsang kecepatan minum. Ada atau tidak adanya musik juga menyebabkan seseorang lebih banyak menghabiskan waktunya di suatu bar

Peneliti lalu memilih secara acak pria yang memesan bir di bar yang diobservasi tersebut dan memutar musik pada level kebisingan tertentu. Setelah masing-masing partisipan meninggalkan bar, level kebisingan kembali dimanipulasi dan pemilihan peminum secara acak pun kembali dilakukan.

Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada korelasi antara musik bising dengan kecenderungan pengunjung bar untuk mabuk dan menenggak minumannya lebih cepat lagi. Ketika musik yang diputar volumenya keras, pengunjung bar memesan rata-rata 3,4 minuman dan membutuhkan waktu kurang dari 11,5 menit untuk menenggak segelas bir. Sedangkan ketika musik diputar dengan tingkat kebisingan normal, pengunjung memesan rata-rata 2,6 gelas dan membutuhkan waktu 14,5 menit untuk menghabiskan satu gelas minuman.

Peneliti menyatakan ada dua hal yang dapat menjelaskan hubungan antara kebiasaan minum alkohol dan musik yang bising. Satu, dalam kesepakatan dengan riset sebelumnya tentang musik, makanan dan minuman , tinggnya level suara dapat meningkatkan ransangan menjadi lebih tinggi, yang berujung pada keinginan meminum lebih cepat dan memesan banyak minuman.

Kedua, musik yang bising mungkin akan memiliki efek negatif terhadap interaksi sosial di bar, sehingga pengunjung bar minum lebih banyak karena sedikit berbicara.

Sumber : AC/WebMD