Harga Meroket Rakyat (makin) Tercekik
BAGI kebanyakan orang, kian hari kehidupan makin susah saja. Rakyat dililit berbagai kesulitan. Kesulitan terus melilit, sementara para elite yang berkuasa sepertinya tak (mau) tahu. Mereka asyik dengan permainan kekuasaan. Mereka lebih memperhatikan diri sendiri dan kelompoknya. Nafsu elitisme itu melupakan janji-janjinya yang pernah mereka umbar sebelum berkuasa. Kalau dulu berjanji mau membela kepentingan wong cilik, setelah berkuasa melupakan wong cilik. Sifat populis bersalin egois. Semua demi kepentingan diri sendiri atau kelompoknya, sementara rakyat yang dulu mendukungnya dibiarkan terus tercekik.
Dulu rakyat didorong untuk ikut beternak ayam kampung demi gizi masyarakat, tiba-tiba ternak mereka harus dimusnahkan gara-gara flu burung. Seolah-olah rakyat yang salah karena memelihara ayam seenaknya. Rakyat juga didorong untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi mereka. Namun begitu panen, gabah mereka dihadang beras impor. Pemerintah begitu mudahnya mengeluarkan kebijakan impor beras, seolah-olah rakyat (petani) tidak ada. Persis seperti hasrat menaikkan berbagai harga, seolah-olah rakyat tidak ada.
Gara-gara rakyat dianggap tak ada, maka ragam kesulitan rakyat nyaris tak terpantau. Tahu-tahu pemerintah dikejutkan fakta: kurang gizi, busung lapar, serangan berbagai penyakit di pelosok daerah. Ketahanan tubuh rakyat melorot tajam. Maklum saja, demi bertahan hidup sekarang banyak rakyat yang beralih dari mengonsumsi nasi menjadi tiwul, nasi aking atau singkong. Jatah makan juga dikurangi, cukup sekali sehari, selebihnya diisi seadanya saja. Virus atau bakteri, maupun bibit penyakit lain, sangat mudah menggerogoti tubuh yang ringkih. Jiwa juga kian rapuh. Maka makin banyak kasus bunuh diri, stres, dan sakit jiwa.
Maka, rakyat sudah sangat mengerti atau terpaksa menerima keadaan. Kalau toh ada kenaikan harga, rakyat juga dipaksa untuk mau mengerti dan menerima dengan penuh kepasrahan. Namun yang kurang dimengerti, kenapa harga itu dibiarkan terus meroket? Apalagi di saat-saat seperti menjelang hari raya, harga-harga makin mencekik rakyat kecil.
sumber : (BP/mywrotes)
bener bgt…
rakyat yg miskin tambah miskin, yg kaya makin kaya aja… makan tahu-tempe aja kale…
yang penting kita harus me manage keuangan serapi mungkin!
ceilah!
wekekekek!
sebagai rakyat kecil saya hanya bisa mengikuti dan bertahan sekuatnya
Iya nih makin susah nyari duit buat isi perut, hrs gmna ya?
@ nick : yg penting kita tetap sehat, tahu tempe kan makanan bergizi tuh…
@ trendy : saat ini uang sekecil apapun sangat berarti bagi mereka… t-ul ga?
@ yudi : mencoba untuk terus bertahan…
@ Taktiku : jadi, apakah kita perlu berhemat?
untungnya aku bukan rakyat kecil, meski tubuhku kecil. hahaha..
let’s enjoy this fucking life..:D hidup memang selalu begini. mari kita hadapi saja.
Ya sudah, gini aja, pas musim kampanye nanti, kalau ada calon yg nawarin janji2 lagi, langsung aja disodorin naskah kontrak politik supaya ditanda-tangani calon itu. Pakai notaris juga. Supaya ada dasar hukum buat kita utk nagih janji nanti. Kalau cara ini ndak mempan juga, ndak tau lagi deh. Barangkali memang nasib bangsa kita memang lagi apes. Punya pemimpin yg ndak punya muka semua.
@ anton : tubuh kecil tapi lincah kan so good…mari
@ Johan : wah,, ini ide ngecling…dan semua rakyat menjadi saksinya… sebelum jd pemimpin mereka punya muka, tp setelah jd pemimpin kok mukanya ilang yah??
solusinya apa?belum ada yg jelas hin99a kini,yg ada yg kaya makin kaya yg miskin ya tambah miskin…
biasalah pejabat tuch lupa ma jani2nya klu da duduk disanah..!!!
@ wi3nd : pejabat klo udah duduk di kursi panas jadi lupa ama kepentingan rakyat… malah makin sering mengurusi bagian yang terkena panas itu…weleh…