Arsip

Archive for the ‘Kesehatan’ Category

Menguap

Agustus 15, 2008 2 komentar

Reaksi Alamiah atau Kebiasaan

Penahkah kamu menguap? Mungkin itu pertanyaan yang agak “mblelot”, artinya setiap orang pasti pernah menguap, dari bayi yang baru lahir sampai kakek-kakek pasti pernah menguap dan hampir setiap saat kita bisa menguap.

Baca selanjutnya…

Iklan
Kategori:Kesehatan

Apa Anda Gila?

Juli 26, 2008 1 komentar

PENYAKIT kejiwaan memang kedengaran menakutkan. Tapi sebelum Anda lompat ke kesimpulan bahwa Anda menderita gangguan seperti itu, lebih baik temukan dan pelajari dulu apa yang sedang terjadi dengan otak Anda.

Baca selanjutnya…

Kategori:Kesehatan

Secangkir Teh Perlambat Kerusakan Sel dan Otak

Juli 25, 2008 2 komentar

SECANGKIR teh baik untuk otak karena memperlambat kerusakan sel dan menjaga daya ingat tetap tajam di usia tua. Setiap jenis teh akan menghasilkan manfaat yang sama.

Teh itu murah, tidak beracun dan dikonsumsi masyarakat luas.

Baca selanjutnya…

Kategori:Kesehatan

Telinga Berdengung Karena Pake iPods, Kok Bisa?

Juli 24, 2008 4 komentar

MUSIK salah satu cara pendongkrak semangat, musik membuat hidup lebih hidup, tapi apa jadinya jika musik bikin telinga berdengung? Tentu bukan musik yang bikin telinga ‘ngungung’, tapi perilaku kita mendengarkan musik yang membuat pendengaran jadi tak tajam lagi.

Para peneliti menemukan sekitar seperempat pengguna iPods mengalami gangguan pendengaran. iPods mania atau pemakai portable music players lainnya sering beresiko mengalami kenaikan telinga berdengung (tinnitus) atau masalah pendengaran lainnya, kecenderungan ini lebih banyak dijumpai pada pengguna iPods yang gila-gilaan memutar volume iPods-nya.

Para responden mendengarkan musik dengan volume sebanding dengan perangkat bermesin motor (ie: mesin bor). Para peneliti menemukan bahwa tingkat dengungan (tinnitus) akan meningkat karena pendengaran tak bisa lagi mengadopsi kebiasaan normal telinga mereka.

Penelitian tersebut mencatat sekitar 25 persen responden cenderung mendengarkan iPods ataupun portable musik lainnya dalam kapasitas ‘bising’ sebanding dengan tingkat kebisingan suara-suara pada alat pemotong rumput maupun perangkat bermesin motor, dengan rata-rata intensitas diatas 85 decibels.

Dalam ukuran normal, orang dengan pendengaran normal audiogram-nya terletak antara 0 sampai 20 decibels, lebih dari 30 decibels dengan rentangan sampai 100 desibel berarti ada gangguan pendengaran.

Ukuran intensitas pendengaran normal dicatat dalam bentuk audiogram, dimana audigram yang terletak antara 30 sampai 40 decibels termasuk gangguan ringan. Dari 40 sampai 60 decibels termasuk skala sedang. Antara 60 sampai 90 desibel sudah berat. Sebagai gambaran, bunyi mesin bor jalanan sama dengan 100 desibel. Mesin pesawat terbang 120 desibel. Sedang ruangan yang tenang kira-kira sekitar 30 sampai 40 desibel.

Menikmati alunan musik disco, menghadiri pesta dansa, bekerja di pabrik, mendengarkan musik sambil berkendara atau hanya mendengarkan musik didalam kamar, apapun kondisinya jika mengganggu telinga hal tersebut sudah termasuk kategori ‘kebisingan’.

Akan lebih baik jika mendengarkan musik dalam frekuensi normal, mungkin gangguan ini tak tampak dalam waktu dekat namun tak menutup kemungkinan memicu gangguan yang lebih berat beberapa tahun mendatang.

Sumber : (sky/rit)

Kategori:Kesehatan, Musik

Musik Bising Bikin Anda Cepat Mabuk

Juli 24, 2008 2 komentar

DENTUMAN musik di bar atau diskotik bukan saja membuat Anda larut dalam suasana yang menghibur. Kerasnya volume suara musik yang diputar juga dapat merangsang kecepatan Anda dalam minum Alkohol.

Bagi yang sering nongkrong di bar atau diskotik, fakta ini mungkin bukanlah hal yang baru. Tetapi sebuah penelitian ilmiah di Prancis menunjukkan, bertambah besarnya volume musik dapat memicu dan meningkatkan kecepatan seseorang menenggak bir atau minuman beralkohol lainnya.

Musik yang gaduh atau bising berkorelasi dengan peningkatan konsumsi alkohol dan memperpendek waktu yang dibutuhkan seseorang untuk mengosongkan gelasnya.

Musik berirama cepat dapat merangsang kecepatan minum. Ada atau tidak adanya musik juga menyebabkan seseorang lebih banyak menghabiskan waktunya di suatu bar

Peneliti lalu memilih secara acak pria yang memesan bir di bar yang diobservasi tersebut dan memutar musik pada level kebisingan tertentu. Setelah masing-masing partisipan meninggalkan bar, level kebisingan kembali dimanipulasi dan pemilihan peminum secara acak pun kembali dilakukan.

Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada korelasi antara musik bising dengan kecenderungan pengunjung bar untuk mabuk dan menenggak minumannya lebih cepat lagi. Ketika musik yang diputar volumenya keras, pengunjung bar memesan rata-rata 3,4 minuman dan membutuhkan waktu kurang dari 11,5 menit untuk menenggak segelas bir. Sedangkan ketika musik diputar dengan tingkat kebisingan normal, pengunjung memesan rata-rata 2,6 gelas dan membutuhkan waktu 14,5 menit untuk menghabiskan satu gelas minuman.

Peneliti menyatakan ada dua hal yang dapat menjelaskan hubungan antara kebiasaan minum alkohol dan musik yang bising. Satu, dalam kesepakatan dengan riset sebelumnya tentang musik, makanan dan minuman , tinggnya level suara dapat meningkatkan ransangan menjadi lebih tinggi, yang berujung pada keinginan meminum lebih cepat dan memesan banyak minuman.

Kedua, musik yang bising mungkin akan memiliki efek negatif terhadap interaksi sosial di bar, sehingga pengunjung bar minum lebih banyak karena sedikit berbicara.

Sumber : AC/WebMD

Kategori:Kesehatan

Serangan Jantung di Malam Hari Akibat Susah Tidur

Juli 23, 2008 1 komentar

OBSTRUCTIVE sleep apnea atau gangguan tidur yang biasanya ditandai dengan ngorok berisiko memunculkan serangan jantung di malam hari dibanding pada siang hari. Demikian sebuah penelitian mengungkap.

Pada orang yang mengalami obstructive sleep apnea, jalur napas atau udara bagian atas terblokade atau terhambat entah itu pada sebagian atau seluruh saluran yang menyebabkan pernapasan terganggu, tersendat berkali-kali selama semalam.

Penelitian baru yang dipublikasikan di Journal of the American College of Cardiology, merekomendasikan bahwa mereka yang mengalami serangan jantung saat tidur di malam hari biasanya terjadi dipicu oleh adanya obstructive sleep apnea. Demikian kesimpulan ini dibuat berdasar pengamatan pada 92 orang yang pernah mengalami serangan jantung.

Para pasien ini diamati dengan cermat, kapan serangan jantung mulai. Mereka juga diteliti pola tidurnya di sebuah laboratorium tidur selama 17 hari setelah serangan jantung. Penelitian mengenai tidur ini menunjukkan, 64 pasien menderita obstructive sleep apnea.

Para pasien dengan atau tanpa gangguan tidur nyaris sama-sama memiliki riwayat pernah menggunakan obat dan memiliki latar belakang risiko sama. Namun masing-masing memiliki perbedaan waktu saat mengalami serangan jantung. Mereka yang mengalami obstructive sleep apnea enam kali lebih berisiko mengalami serangan jantung di malam hari mulai tengah malam hingga pukul 6 pagi hari dibanding siang hari. Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki gangguan ngorok ini biasanya mengalami serangan jantung justru di pagi (pkl. 6 pagi) hingga ssore hari.

Obstructive sleep apnea
“bisa jadi menjadi pemicu” munculnya serangan jantung, tulis para ilmuwan, yang salah satu anggotanya adalah Dr. Fatima Kuniyoshi, PhD. Tim Kuniyoshi ini kemudian melanjutkan penelitian untuk melihat apakah dengan menangani obstructive sleep apnea ini dapat mengurangi risiko serangan jantung.

Sumber: Journal of the American College of Cardiology

Kategori:Kesehatan